Opini

KAPITALISME DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Oleh : Zulkifli Sugiarto (Wasek Bidang PPPA HMI Komisariat Perikanan Dan Ilmu Kelautan Unkhair Ternate)

PENDIDIKAN merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat sosial, tidak salah jika ada yang menyatakan bahwa terpuruknya suatu bangsa disebabkan telah diabaikannya pendidikan. Karena pada hakikatnya proses kehidupan adalah proses pendidikan, dan begitu juga sebaliknya proses pendidikan merupakan proses kehidupan. Sehingga dapat disimpulkan pendidikan adalah bidang kehidupan manusia yang paling vital dan fundamental bagi proses menuju bangsa yang cerdas sehingga berujung pada kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa. Namun pendidikan seringkali masih dirasakan oleh masyarakat sebagai beban berat. Banyak masyarakat yang tidak dapat sepenuhnya memperoleh pendidikan karena ketiadaan biaya.

Pendidikan menjadi barang mewah yang teramat mahal sehingga tidak dapat dijangkau dengan kemampuan uang yang dimiliki. Ini disebabkan budaya kapitalis telah merambah dunia pendidikan, dunia pendidikan tidak luput dari kekejaman kapitalisme yang cenderung hanya bicara uang dan keuntungan materil. Hal ini berusaha mengkaji secara kritis tentang fenomena kapitalisme yang telah berkembang dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya sekolah bahkan di perguruan tinggi, sehingga menyebabkan perbedaan kualitas pendidikan yang didapatkan oleh masyarakat. Bahwa ada beberapa hal yang harus dilakukan agar dapat mengembalikan pendidikan kepada hakikatnya, yaitu dengan mengembalikan pendidikan ke jati diri idea sebagai proses mencerdaskan kehidupan bangsa yang diamanatkan dalam UUD 1945, yaitu pendidikan yang berkualitas sekaligus berkeadilan bagi seluruh anak bangsa. Pendidikan yang berlaku untuk semua tanpa kecuali hilangkan hambatan bagi akses pendidikan untuk semua. Temukan alternatif model pendidikan yang bervisi dan berwajah humanis, Pernyataan Soedijarto dan Tilaar di atas menunjukkan betapa pendidikan sejatinya tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan suatu bangsa dimana pendidikan itu berada.

Rupert C. Lodge mengingatkan bahwa pendidikan dengan kehidupan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dengan pernyataannya yang sangat populer; hidup atau kehidupan adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup atau kehidupan itu sendiri. Proses kehidupan pada hakikatnya adalah proses pendidikan, dan proses pendidikan merupakan proses kehidupan manusia.

Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang berkembang di tengah masyarakat. Ideologi turut mewarnai pendidikan, sehingga pendidikan yang dilakukan di tengah masyarakat memiliki karakteristik tertentu yang identik dengan ideologi yang dianut. O’neil mengemukakan, secara umum ada dua ideologi. Kapitalisme dan Pendidikan Liberal-Kapitalistik Samrin berkembang dalam dunia pendidikan, yaitu konservatif dan liberal. Kedua ideologi ini memiliki varian yang beragam.

Untuk ideologi pendidikan liberal salah satu variannya adalah pendidikan yang bercorak liberal-kapitalistik. Pendidikan di Indonesia sejak reformasi 1998 dinilai condong ke arah liberal-kapitalistik. Sedangkan kebijakan pendidikan yang ada saat ini hanya sebagai kepura-puraan mewujudkan pendidikan yang populis atau merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Darmaningtyas berpendapat, berbagai kebijakan yang sifatnya pura-pura populis tersebut seperti bantuan operasional sekolah (BOS) dan beasiswa bidik misi. Kebijakan bantuan pembiayaan pendidikan tersebut menurutnya hanya menjadi alat untuk mendinginkan tensi tinggi dari masyarakat yang menolak kebijakan privatisasi dan liberalisasi pendidikan.

Darmaningtyas menilai dunia pendidikan di Indonesia sudah carut-marut. Bahkan ia menyebutkan, kondisi dunia pendidikan pada zaman Orde Baru, justru jauh lebih baik daripada setelah era reformasi sekarang ini. Pada zaman Orde Baru, di dunia pendidikan tidak ada kapitalisasi, kastanisasi, dan liberalisasi. Ketika itu, seluruh warga negara relatif mendapat kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas, bahkan hingga jenjang pendidikan tinggi. Pada masa itu, jika memang pandai dan diterima di perguruan tinggi negeri, maka keluarga dengan latar belakang ekonomi kecil dan menengah dapat mengenyam dunia pendidikan tinggi.

Dewasa ini anak dari keluarga miskin, semakin sulit mengenyam pendidikan tinggi, bahkan keluarga menengah pun berpikir dua kali untuk menguliahkan anaknya ke program studi favorit, seperti kedokteran. Tampak bahwa dunia pendidikan masih lebih banyak memihak kepada orang kaya. Di sisi lain, terjadi pula liberalisasi pendidikan yang ditandai kebijakan pemerintah membuka peluang investor pendidikan asing untuk masuk dan membuka institusi pendidikan di dalam negeri. Ini akan menjadi tantangan bagi institusi pendidikan dalam negeri untuk dapat bersaing dengan institusi pendidikan asing. Oleh karena itu, model pendidikan liberalkapitalistik ini penting untuk dikaji demi memahami segala dampak yang ditimbulkan, termasuk upaya menemukan formula antisipasinya.

Kompetisi dan globalisasi telah menciutkan dunia dari jangkauan manusia. Semua manusia modern saling berkompetisi melakukan akumulasi modal. Maka tak heran sekolah ibarat perusahaan katering yang menyediakan layanan menu enak dan siap antar untuk memenuhi kebutuhan perut. Semua sekolah berlomba untuk memberikan fasilitas yang lengkap, karena sekolah harus beradabtasi dengan iklim global. Selanjutnya, ada beberapa dampak yang ditimbulkan akibat pendidikan yang bercorak liberal-kapitalistik, yaitu:

1. Peran negara dalam pendidikan semakin menghilang dan akan berdampak semakin banyaknya kemiskinan yang ada di negeri ini. Hal ini terjadi karena banyak anak yang gagal dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

2. Masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosialekonomi. Hal ini terjadi karena pendidikan yang berkualitas hanya bisa dinikmati oleh sekelompok masyarakat dengan pendapatan menengah ke atas. Bagi masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah tidak dapat mengakses pendidikan tersebut.

3. Indonesia akan tetap berada dalam sistem kapitalisme global pada berbagai sektor kehidupan, terutama dalam sistem perekonomiannya. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan yang dijalankan dewasa ini sudah dikondisikan untuk mengadaptasi dan melanggengkan sistem tersebut.

4. Sistem kapitalis menjadikan negara hanya sebagai regulator/fasilitator. Sementara yang berperan aktif dalam sistem pendidikan adalah pihak swasta, sehingga muncul otonomiotonomi kampus atau sekolah yang intinya semakin membuat negara tidak ikut campur tangan terhadap lembaga pendidikan. Hal tersebut berakibat bahwa sekolah dan perguruan tinggi harus kreatif dalam mencari dana bila ingin tetap bertahan. Mulai dari membuka bisnis hingga menaikkan biaya pendidikan, sehingga pendidikan memang benar-benar dikomersilkan dan sulit dijangkau masyarakat yang kurang mampu.

Kapitalisme pendidikan telah melahirkan mental yang jauh dari cita-cita pendidikan sebagai praktik pembebasan dan agenda pembudayaan. Sekolah saat ini tidak mengembangkan semangat belajar yang sebenarnya, tetapi menjadi pelayan kapitalisme. Sekolah tidak menanamkan kecintaan pada ilmu, atau mengajarkan keadilan, antikorupsi, atau antipenindasan. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket demi memperoleh sertifikat, yaitu selembar bukti untuk mendapatkan legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia.

Dunia pendidikan telah terlihat wajah buramnya. Pendidikan telah tercerabut dari makna filosofisnya. Maka, pendidikan harus memberikan keleluasan bagi setiap orang untuk menatakan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata orang lain. Murid harus diberi kesempatan untuk menatakan dengan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata sang guru. Atas dasar itulah, Freire menatakan bawa proses pengasaran dan keterbacaan (alfabetisasi dan literasi) pada tingkat yang paling awal sekali dari proses pendidikan haruslah benar-benar merupakan suatu proses yang fungional, bukan sekedar suatu kegiatan teknis mengajarkan huruf-huruf dan angka-angka serta merangkainya menjadi kata-kata dalam kalimat yang tersusun secara mekanis.

Menurut Karl Marx (dalam Masoed, 2002), kapitalisme adalah sebuah sistem dimana harga barang dan kebijakan pasar ditentukan oleh para pemilik modal untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam sistem kapitalis ini, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar demi keuntungan bersama, melainkan hanya untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

Lain halnya dengan Karl Marx, Adam Smith berpendapat bahwa kapitalisme adalah suatu sistem yang bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat apabila pemerintah tidak memiliki intervensi terhadap mekanisme dan kebijakan pasar. Didalam kapitalisme ini pemerintah hanya berperan sebagai pengawas saja.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Max Weber (dalam Masoed, 2002), dimana Weber mengnggap bahwa kapitalisme ialah sebagai sebuah sistem kegiatan ekonomi yang dituju pada suatu pasar dan juga yang dipacu untuk menghasilkan laba dengan adanya pertukaran pasar.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kapitalisme atau kapitalis adalah sebuah sistem ekonomi politik dimana terdapat perdagangan, industri, dan alat-alat produksi yang dikendalikan oleh pemilik modal dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Adapun ciri-ciri dari kapitalisme itu sendiri antara lain (Peters, 2011): Kapitalisme bersumber dari liberalisme. Liberalisme adalah paham yang menyatakan bahwa negara tidak boleh ikut campur tangan dalam berbagai sendi kehidupan warga negaranya, sehingga negara hanya dibatasi kepada menjaga ketertiban umum dan penegakan hukum.

Kapitalisme mempengaruhi dunia pendidikan karena prinsip kapitalisme digunakan sebagai paradigma pendidikan. Masuk dan berkembangnya kapitalisme di dunia pendidikan ditandai dengan semakin maraknya pembangunan sekolah-sekolah swasta dengan memberlakukan perilaku pasar bebas dan dunia bisnis di dunia pendidikan (sekolah).

Penerapan sistem kapitalis dalam dunia pendidikan ini banyak menimbulkan dampak yang tidak baik bagi suatu negara. Salah satu dampak yang paling mendasar adalah biaya pendidikan semakin mahal yang menyebabkan tidak semua masyarakat bisa mengakses pendidikan, sehingga akan semakin sedikit kesempatan bagi warga yang kurang mampu dalam memperoleh pendidikan. Akibatnya, pemerataan pendidikan tidak akan bisa berjalan, karena masih banyak warga yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan.

Label
Tampilkan Lebih Banyak

Koridor Malut

Koridormalutnews.com adalah media online berbasis di Ternate dan fokus untuk wilayah Maluku Utara.

Artikel Terkait

Back to top button
Close