Opini

Peta Gerakan Sosial Revolusioner

( Telaah Kritis Mencari Format Gerakan Sosial Yang Terkonstruktif, Masif dan Progresif Diera Posmodernisme)

Oleh : Rusmin Hasan

Zaman terus bertransformatif dari fase revolusi industri menuju kepunahan krisis humanisme ( Human capital ). Sampai diera posmodernisme saat ini, kita tengah menghadapi sebuah problem sosial yang sangat krusial yakni krisis ekologis dan ruang hidup masyarakat, dan ditambah lagi dengan mewabahnya covid-19 ini, masyarakat tergeruk derita krisis ekonomi yang multidimensi.

Negara seakan diam dan tak melakukan kebijakan yang signifikan untuk menjawab berbagai problem tersebut, malah semakin memperparah kondisi sosiologis masyarakat dengan berbagai kebijakan yang sangat menyebalkan rakyat dengan adanya beberapa isu tren dekade ini, tentang harga sembako yang mau dinaikan taraf pajaknya. Kelompok intelektual, akademisi, mahasiswa dan praktisi sosial sebagian besarnya ikut terkoptasi pada ritme polirisasi kebijakan politis pragmatis tersebut.

Rakyat seakan menghembus nafas tanpa henti merasakan derita yang melanda mereka yang tak habis-habisnya. Perjuangan reformasi hanyalah menjadi paradoks dalam wacana aktivis 98. Kenapa saya katakan demikian; Perjuangan reformasi tak bisa dijadikan treaming kesuksesan aktivis 98 dikarenakan banyak kasus yang belum terealisasikan secara simultan dibangsa ini, mulai dari kasus HAM, kebebasan berdemokrasi, ketimpangan ekonomi sampai pada praktek KKN yang masih saja marak dibangsa ini dan lain sebagaiannya. Problem sosial diatas harus menjadi pertanyaan kritis untuk kita semua?

Minimnya kelompok radikal intelektual tranformatif dikampus-kampus merupakan sebuah kegelisaan bagi penulis. Mungkinkah transformasi sosial dapat terjadi lagi? padahal keyakinan untuk menciptakan perubahan itu justru diharapkan oleh kelompok intelektual. Tragisnya, pada level gerakan sosial muncul fragmentasi dalam gerakan-gerakan reaksioner yang elitis.

Hal ini, mungkin terjadi karena keringnya ruang mediasi intelektual sebagai basis dialektika refleksi atas sekian gerakan aksi yang dilakukan. Sebuah hal yang mustahil kerangka kerja revolusioner itu akan tercapai tanpa adanya sebuah tranformasi wacana kritis yang masif dan tradisi dialektis yang tertuang dalam kaderisasi yang sistematis dan berkelanjutan. Bahkan potret intelektual aktivis era sekarang mengalami degradasi gren tradisi intelektual semisal; membaca, berdiskusi, menulis sampai melakukan pemetaan gerakan aksi mustahil perubahan sosial itu bisa dicapai tanpa bangunan kerangka epistemologi diatas.

Organisasi perjuangan sebagai komunitas ideologis yang berbasis intelektual tranformatif dan independen mampu menjawab tantangan-tantangan zaman atas sekian proses ekspolitasi, dehumanisasi, krisis HAM, Krisis ekonomi, dan sekian persoalan lainnya yang tak saja membutuhkan alat epistemologi yang jeli, tetapi juga proses bergulir tidak hanya terlihat secara kasat mata. Mustahil kita bisa menganalisis deras sosial apabila tanpa gagasan dasar kaderisasi formal dan informal yang memiliki bobot pengetahuan dan pembacaan realitas sosial yang jelas. Sehingga isu apapun yang sedang diujung, merupakan isu aktual, strategis dan populis, bukan isu elitis, usang dan hanya menjadi tungangan kepentingan politik pragmatis.

Pertanyaan apakah organisasi perjuangan sudah mampu mengusung sekian mandat sosial yang diembannya? Dan apakah organisasi tersebut sudah mampu memposisikan dalam proses tranformasi sosial? Ataukah hanya menjadi bagian dari reproduksi sosial…? Beberapa kegelisaan ini harus bisa dijawab dengan kaderisasi sistematis dan berkelanjutan dengan wacana-wacana yang dikembangkan dengan melihat kebutuhan kader, organisasi, rakyat dan bangsa.

Pelatihan basis kaderisasi yang sistematis dan berkelanjutan merupakan upaya pembentukan kader yang militan, tangguh dan progresif untuk menjawab tantangan zaman.

Prinsip dasar dalam melakukan pengkaderan adalah upaya liberasi sebagai manifestasi kekebasan manusia dalam berfikir dan bertindak, sehingga ada kesesuaian kebenaran berfikir dan bertindak serta basis kebenaran itu sendiri tertuang dalam platfrom ideologi organisasi perjuangan masing-masing. Keniscayaan seorang intelektual itu, melekat tiga misi besar perjuangan yakni misi pembebasan terhadap rakyat kecil, misi humanisasi sekaligus misi spiritual untuk dikonfirmasikan demi kejayaan umat dan bangsa ditengah-tengah belenggu penguasa yang otoriter serta tak bermoral etis.

Tantangan Gerakan Kaum Intelektual diera posmodernisme saat ini.

Ada beberapa tantangan krusial yang harus kita telaah secara kritis, diantaranya:

Pertama; Antara upaya membuka ruang demokrasi Nasional dengan munculnya gejola demokrasi arus bawa yang masif,

Kedua; Persoalan perubahan dinamika ekonomi politik global yang bermetamorfosis menjadi kekuatan neoliberlisme dan dominasi klas atas politik oligarki yang kuat,

Ketiga; Masyarakat indonesia saat ini, sedang terbelenggu oleh nilai-nilai kapitalisme modern, dimana kesadaran masyarakat dikekang dan diarahkan pada satu titik yaitu budaya massa kapitalisme dan pola berfikir positivisme modernis.

Keempat; Masyarakat indonesia adalah masyarakat majemuk atau plural, beragama baik secara etnis, kultural maupunkepercayaan ( adanya prualitas society ).

Kelima; Pasca orde baru sampai reformasi, pemerintah menggunakan sistem yang represif dan otoriter dengan pola yang hegomonik ( sistem pemerintahan menggunakan paradigma keteraturan yang anti perubahan dan pro status qou ).

Keenam; Masih menguatnya belenggu dogmatis agama, akibatnya agama menjadi kering dan baku. Bahkan tidak jarang agama justru menjadi penghalang bagi kemajuan dan upaya menegakkan nilai kemanusiaan. Dan terakhir diera digital revolusi 5.0 saat ini, menguatnya Robotik diera digital yang membelenggu kreatifitas masyarakat untuk mengoptimalkan potensi SDM dan pengelolaan Ekonomi berbasis lokal.

Maka mengharuskan kita mendesain format gerakan sosial yang lebih terkontruktif, masif dan progresif sehingga berdampak pada memahami peta gerakan sosial yang visioner demi presur kepentingan Sivil society secara kolektif.

Setiap gerakan sosial yang terkontruktif, masif dan progresif haruslah memiliki metedologi yang sistematis, maka saya menawarkan dua alternatif istrumen atau alatnya untuk membuka paradigma berfikir kritis kita sesuai dengan kebutuhan realitas zaman yakni: Pertama; Kerangka bangunan filsafat sebagai pisau analisis sosial dan kedua adalah Paradigama Kritis Tranformatif Sebagai pola berfikir dan bertindak.

Rumusan Strategi & Taktik Gerakan sosial ( Peta analisis sosial dan solutif perubahan sosial diera posmornisme saat ini)

Tahap I:
– ( Teori Perubahan sosial, Metode pengorganisasian dan prawacana ).
Tahap 2 :
– Peta Kesadaran sosial ( Kesadaran Magis, Kesadaran Naif dan kesadaran kritis ) melalui pemberdayaan Intelektual dengan menghadirkan medium belajar yang masif melalui literasi, studi Club dan sekretariat organisasi untuk menanamkan kesadaran kritis sekaligus rekonsualiasi persatuan nasional antar semua elemen.
– Teknik Lobi dan negosiasi
– Metode Agitasi dan Propoganda terhadap rakyat.
– Membentuk kelompok Progresif bagi Civil Society
-Menciptakan ruang alternatif belajar yang merdeka dan profresif bagi elemen gerakan sosial
– Membangun konsensus semua elemen organisasi gerakan tentang musuh bersama bangsa ini
– Merumuskan kerja-kerja organisasi rakyat secara simultan.

Dari beberapa poin penting yang saya telah uraikan diatas, sengaja saya gambarkan secara umum untuk kita bisa diskusikan sekaligus membangun format gerakan yang terkontruktif, masif dan progresif diera posmordernisme saat ini sehingga kita menyatukan paradigma berfikir dan bertindak.

Mengingat ada problem besar yang sangat krusial dibangsa ini, untuk kita diskusi bersama kawan-kawan pergerakan. Terlepas dari beberapa aspek yang telah saya gambarkan secara gamlang. Semoga Narasi singkat ini, bisa menjadi otokritis kontruktif dan Ikhtiar atau usaha untuk merekontruksi kesadaran berfikir kritis kita bersama-sama. Salam Tadzim buat kawan-kawan seperjuanganku.

Label
Tampilkan Lebih Banyak

Koridor Malut

Koridormalutnews.com adalah media online berbasis di Ternate dan fokus untuk wilayah Maluku Utara.
Back to top button
Close